Pernahkah Anda berpikir bahwa generasi yang paling fasih menggunakan AI justru menjadi kelompok yang paling takut padanya? Realitas ironis inilah yang terungkap dalam laporan survei terbaru dari Pew Research Center.
Anak muda di Amerika Serikat (usia di bawah 30 tahun) yang sebelumnya dikenal paling antusias menyambut kehadiran Artificial Intelligence, kini justru berbalik arah menjadi sangat skeptis. Makin sering mereka berinteraksi dengan AI di tempat kerja dan ruang kuliah, makin besar pula rasa cemas yang timbul.
Mayoritas Anak Muda Lebih Waspada Dibanding Antusias
Temuan Pew Research Center mencatat pergeseran tren yang sangat drastis:
- 55% orang dewasa muda (usia 18–29 tahun) kini menyatakan bahwa mereka lebih khawatir daripada antusias terhadap makin meluasnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Angka ini melonjak tajam dibanding 2021 yang saat itu hanya berada di kisaran 31%.
- Hanya 11% anak muda yang mengaku masih lebih antusias ketimbang khawatir, anjlok drastis dari 25% pada lima tahun lalu.
- Secara nasional (seluruh kelompok usia warga AS), sebanyak 52% responden mengekspresikan kekhawatiran serupa terhadap perkembangan AI.
Kondisi ini membuat tingkat kecemasan Gen Z dan milenial muda kini sejajar dengan kelompok usia yang lebih tua, yang sejak awal memang sudah bersikap hati-hati terhadap otomatisasi.
Ancaman Lapangan Kerja: Menggerogoti Posisi Entry-Level
Mengapa antusiasme anak muda menguap begitu cepat? Faktor utamanya adalah pekerjaan.
Hampir tiga perempat orang dewasa muda di AS (73%) percaya bahwa pesatnya perkembangan AI akan menyebabkan berkurangnya ketersediaan lapangan kerja dalam 20 tahun ke depan. Angka ini naik signifikan dari 61% pada dua tahun sebelumnya.
Anak muda berada di garis depan dampak AI. Banyak posisi tingkat awal (entry-level) seperti pembuatan konten dasar, analisis data pemula, riset pasar, hingga pemrograman tingkat dasar—yang biasanya menjadi batu lonjakan karier lulusan baru—kini mulai dialihdayakan ke alat berbasis AI.
"Makin sering mereka menggunakan kecerdasan buatan, makin sadar mereka bahwa alat ini bukan hanya sekadar membantu pekerjaan, tetapi berpotensi menggantikan peran mereka sepenuhnya," tulis riset tersebut.
Bukan Cuma Pekerjaan: Kreativitas dan Privasi Turut Terancam
Tidak hanya berdampak pada lapangan kerja, adopsi AI juga menimbulkan keraguan terhadap kualitas hidup dan privasi:
- Mengikis Kreativitas: Banyak anak muda merasa bahwa ketergantungan pada chatbot justru merusak daya cipta dan interaksi antarmanusia ketimbang membantunya.
- Krisis Privasi Data: Sebagian besar masyarakat (71%) meyakini peningkatan penggunaan AI membuat data pribadi mereka makin tidak aman.
- Ketidakpercayaan pada Regulator dan Pengembang: Lebih dari 60% warga tidak yakin pengembang AI akan menggunakan teknologi ini secara bertanggung jawab, dan dua pertiga masyarakat ragu pemerintah mampu membuat regulasi yang efektif.
Pelajaran Penting Bagi Korporasi dan Pemimpin Bisnis
Data ini mengirimkan pesan kuat bagi para pimpinan perusahaan yang sedang gencar melakukan transformasi digital. Mengintegrasikan AI tanpa memikirkan dampaknya terhadap SDM hanya akan menciptakan ketakutan dan resistensi di dalam tim.
Tantangan terbesar bisnis saat ini bukanlah bagaimana mengadopsi AI secepat mungkin, melainkan bagaimana merancang kolaborasi yang adil antara AI dan manusia—serta membekali para pekerja muda dengan keahlian baru (upskilling) agar mereka tidak tergilas oleh zaman.

